Ini mungkin
berita lama bagi para ahli sejarah dinosaurus di seluruh dunia, tetapi
ternyata brontosaurus tidak pernah benar-benar ada.
Seperti
dilaporkan NPR pada Minggu, cerita asal-usul brontosaurus adalah kisah
menarik yang menyoroti permulaan penemuan ilmiah yang masih mentah.
Pada
1877, dua ahli paleontologi bersaing untuk mengetahui siapa yang bisa
membuat penemuan terhebat tentang sisa-sisa dinosaurus. Othniel Charles
Marsh dan Edward Drinker Cope adalah rival abadi yang kadang mengambil
langkah-langkah ekstrem untuk memamerkan kehebatan mereka. Persaingan
mereka begitu ketat, sampai terkenal dengan nama Bone War alias Perang
Tulang.
"Ada cerita tentang Cope dan Marsh mengatakan kepada
kolektor fosil mereka untuk menghancurkan kerangka yang masih berada di
tanah, agar orang lain tidak bisa menemukannya," tutur Matt Lamanna,
kurator di Museum Sejarah Alam Carnegie di Pittsburgh, kepada NPR "All
Things Considered." "Itu persaingan yang sangat ketat."
Pada
puncak persaingan mereka, Marsh menemukan kerangka parsial dinosaurus
berleher dan berekor panjang tanpa kepala. Untuk mempercepat proses agar
bisa mendapatkan pengakuan, dia menggunakan tengkorak dari dinosaurus
lain dan menjuluki temuannya itu apatosaurus.
"Dua tahun
kemudian, kolektor fosilnya yang bekerja di Barat mengiriminya kerangka
kedua yang menurutnya adalah milik dinosaurus berbeda yang dia beri nama
brontosaurus," tutur Lamanna.
Namun, kerangka itu sebenarnya
adalah milik apatosaurus. Sangat mirip dengan penemuan apatosaurus
pertama, seandainya Marsh masih menunggu bukti lainnya, kesalahan
penelitian bisa dihindari. Namun, dalam usaha untuk mengungguli
rivalnya, Marsh mengungkapkan "penemuan” tersebut. Dan dengan demikian
sejarah brontosaurus dimulai.
Ternyata, kesalahan Marsh dikoreksi
oleh para ilmuwan jauh sebelum masyarakat bersedia menghapuskan
“legenda” brontosaurus, dengan meluruskan fakta satu abad yang lalu pada
1903. Dan seperti yang dilaporkan NPR, bahkan Museum Carnegie sendiri
menempatkan kepala yang salah pada kerangka apatosaurus pada 1932,
menyebutnya brontosaurus.
Akhirnya, pada 1979, dua peneliti
Carnegie mencocokkan kerangka itu dengan kerangka apatosaurus sebenarnya
yang ditemukan di Utah pada 1910.
Meskipun demikian,
brontosaurus tetap menjadi spesies permanen dalam budaya populer. Apakah
itu adalah ketidaktahuan sederhana, atau sesuatu yang lebih dalam?
Seperti yang dikatakan Discovery Channel, "Ketika musisi Prince
mengganti namanya dengan nama yang sulit diucapkan, semua orang masih
memanggilnya 'Prince’. Kebingungan yang sama terjadi pada dinosaurus
apatosaurus, yang masih disebut 'brontosaurus' oleh banyak orang. "
"Brontosaurus
berarti 'kadal guntur,'" tutur Lamanna. "Itu adalah nama besar yang
menggetarkan, sedangkan apatosaurus berarti 'kadal penipu.’ Itu sedikit
lebih membosankan.”